FOLLOW ME
Seeput

Apa Kabar Social Distancing ?

Saat pertama kali diberitakan penemuan coronavirus di Wuhan, to be honest, aku gak merasakan kepanikan. Reaksi pertamaku cuma 'Oh, gitu. Di Wuhan ya? Moga gak sampai Indonesia ya'. Kemudian, sampailah hari di mana pemerintah mengumumkan kasus positif COVID-19 yang pertama di Indonesia dan reaksiku kira-kira begini: 'Ya Allah, kasian yaa. Semoga gak nambah banyak pasiennya dan gak sampai ke Bandung deh virusnya' tapi tak ada satupun aktivitas yang aku batasi, tak sedikitpun waktu di luar rumah yang aku kurangi. Meski begitu, alhamdulillah, saat ini aku & keluarga sudah memilih untuk mengikuti aturan pemerintah. Selain lebih aware terhadap upaya pencegahan terjangkit COVID-19, aku & keluarga juga mendukung kebijakan pemerintah dalam penerapan social distancing.

Mungkin banyak orang yang seperti aku, dulunya abai, tapi sekarang (alhamdulillah) sudah lebih peduli tanpa lebay. Sayangnya, masih banyak juga yang tetap mengabaikan (atau terpaksa mengabaikan) berbagai himbauan pemerintah karena satu dan lain hal. Salah satu himbauan pemerintah yang sering diabaikan dan diperdebatkan adalah social distancing. Sudah sejak berminggu-minggu lalu pemerintah menggaungkan social distancing ini, tapi sebagian orang masih tidak disiplin.

Dilansir BNPB, social distancing adalah menjauhi segala bentuk perkumpulan, menjaga jarak antar manusia, dan menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang. Hal ini dimaksudkan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular dengan mengurangi kemungkinan kontak antara orang terinfeksi dengan orang lain yang tidak terinfeksi. Penerapan social distancing ini memaksa kita untuk bekerja dari rumah, beribadah di rumah, belanja dari rumah, dan belajar dari rumah.

Namun, ada pihak-pihak yang keukeuh bahwa perkumpulan adalah keutamaan, meski ditengah krisis seperti saat ini. Hal ini bisa kita lihat dari berseliwerannya pesan-pesan di grup whatsapp, yang menganjurkan untuk tidak meninggalkan kegiatan keagamaan karena takut tertular virus corona. Beberapa orang bahkan berkata lantang, mereka yang meninggalkan kegiatan keagamaan adalah mereka yang lebih takut virus daripada Allah.

Jika kita menggeser sedikit sudut pandang kita, social distancing ini memberi dampak positif juga loooh, selain mengurangi penyebaran COVID-19 yang memang menjadi tujuan utamanya. Karena social distancing, banyak pekerja yang diharuskan bekerja dari rumah. Positifnya, ada lebih banyak waktu untuk keluarga dan lebih banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal yang dulu tertunda. Karena social distancing juga, orang yang bepergian dengan kendaraan bermotor menurun drastis yang berdampak pada penurunan polusi udara. Ini hal yang baik bagi bumi kita kan ? Kita juga jadi menghemat cadangan minyak di perut bumi karena konsumsi BBM yang menurun :)

Mengutip tulisan Aa Gym di salah satu akun sosial medianya, 'Kita sempurnakan ikhtiar sebagai bukti kesempurnaan tawakal kita kepada Allah. Yakin kepada Allah tak boleh mengabaikan ikhtiar, dan maksimalnya ikhtiar tak boleh melupakan Allah. Semakin yakin kepada Allah, semakin kita sempurnakan ikthiar sesuai sunnatullah'. Dan social distancing adalah salah satu cara memaksimalkan ikhtiar kita supaya Allah ridho menurunkan pertolonganNya, menyudahi pandemi ini dengan segala kuasaNya. Pasti sulit kehilangan pekerjaan, tapi tak akan lebih sulit dari kehilangan nyawa. ^^
Reaksi:
Puput Maulani Mariam
Seorang Sarjana Sains Terapan dari Teknik Telekomunikasi yang mendedikasikan waktunya sebagai istri Reza dan ibu Khalil, dengan entrepreneur sebagai pekerjaan paruh waktunya :)

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email