FOLLOW ME
Seeput

Cerita Ibu Update Status di Media Sosial

Di aplikasi pesan yang populer, terekam sebuah percakapan antara Ibu A dan Ibu B. Aplikasi pesan ini memungkinkan penggunanya membagikan status dengan format foto juga video, lengkap dengan caption yang dikreasikan penggunanya. Ibu A, gemar membagikan status tentang kesehariannya, anak-anaknya, juga suaminya.

Disertai video balitanya yang menggemaskan, Ibu A membagikan status dengan tulisan: Masya Allah, balitaku sekarang udah makin pintar...
Disertai foto barisan skincare di meja riasnya, Ibu A menulis: Makasih ayah! Semoga sehat selalu dan makin dimudahkan rejekinya...
Disertai video kejutan ulang tahun, Ibu A membagikan kebahagiaannya: Alhamdulillah, gak nyangka banget dikasih kado ini sama suami! Semoga lancar selalu kerjaannya sayaang...
Adakah yang berlebihan atau tidak wajar dari unggahan status yang dibuat Ibu A ? In my own opinion, kebiasaan Ibu A ini wajar karena sekarang memang zamannya orang berbagi lewat unggahan media sosial dan yang diunggah pun ngga berlebihan.

Lain halnya dengan Ibu B, yang dalam sebulan unggahannya bisa dihitung pakai jari sebelah tangan. Sekali waktu, unggahannya hanya kutipan kalimat orang terkenal dan jadwal kajian. Lain kesempatan, Ibu B mengunggah tentang anaknya, kemudian tak ditemukan lagi unggahannya berbulan-bulan. Lama tak bersua, Ibu A tergelitik untuk bertanya.

Ibu A: Saaay, kangen iiih, lama banget gak ketemu.
Ibu B: Haaaaai! Iya nih kangen haha. Kamu apa kabar ?
Ibu A: Alhamdulillah, baik. Kamu gimana ? Anak & suami sehat ?
Ibu B: Alhamdulillah sehat.
Ibu A: Oh syukur atuh kalau pada sehat mah. Emm, tapi kamu dari awal nikah emang beda ya hehe
Ibu B: Maksudnya beda gimana say ?
Ibu A: Iya biasanya kan yang awal-awal nikah tuh bahagiaaa banget, update foto-foto romantis sama suaminya gitu. Kamu mah dari dulu sepi-sepi aja hehe. Maaf nih ya, tapi kalian baik-baik aja kan ?

Deg.
Bukankah kita sering mengetik 'HAHAHA' tanpa sungguh tertawa ? Bukankah kita sering menggunakan emoji 😭 tanpa sungguh menangis ? Bukankah kita sering mengirimkan stiker lucu yang tersenyum tanpa sungguh baik-baik saja ? Ini bukan sindiran tajam untuk para penggiat media sosial seperti Ibu A, bukan juga kritik pedas untuk mereka yang membuat batas dengan media sosial seperti Ibu B. Ada sangat banyak perbedaan di dunia dengan 7.7 miliar manusia di dalamnya. Siapa yang lebih benar di antara penyuka jeruk, melon, dan apel ? Jeruk hanya lebih orange dari melon dan apel, melon hanya lebih hijau dari jeruk dan apel, apel hanya lebih merah dari jeruk dan melon.

Jadi, seperti yang Fiersa Besari bilang, keliru kalau kita pikir kita tau hidup seseorang, hanya berdasarkan media sosialnya.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan ini, yang terasa sangat singkat padahal berjam-jam dibuat :))))
Puput Maulani Mariam
Seorang Sarjana Sains Terapan dari Teknik Telekomunikasi yang mendedikasikan waktunya sebagai istri Reza dan ibu Khalil, dengan entrepreneur sebagai pekerjaan paruh waktunya :)

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email