FOLLOW ME
Seeput

For The First Time, I Say No To 'Mudik'

Setiap keluarga mungkin memiliki cara yang berbeda merayakan hari kemenangan. Bagi keluargaku, lebaran sangat identik dengan mudik. Karena kedua orangtuaku dan orangtua suami sama-sama merantau dari kampung halaman (Cianjur) ke Bandung, sejauh puluhan tahun yang aku ingat, lebaran selalu jadi momen mudik yang berkesan. Meski perjalanan yang ditempuh hanya beberapa jam, tapi kehangatan suasa lebaran sangat bisa dirasakan saat berkumpul dengan keluarga besar.
Masih terekam di otakku, suasana kota kecil yang sangat akrab dikunjungi sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi, semasa hamil, sampai saat membawa balita. Jejak-jejak itu masih bisa terlihat, meski puluhan taun sudah berlalu. Tak lupa keluarga & sanak saudara yang selalu menyambut dengan pelukan hangat saat kami tiba di teras rumah. Bagaimana mungkin kenangan indah yang terukir berdekade itu aku lupakan ?

Tapi inilah sejarah lain. Untuk pertama kalinya, kami memilih tak mudik ke kampung halaman di hari lebaran, hari yang seharusnya penuh kehangatan dan candaan dari ponakan-ponakan. Tentu bukan tanpa alasan kami merelakan kehangatan di hari kemenangan. Hanya saja, ada banyak nyawa yang tak sanggup kami pertaruhkan. Di tempat tujuan mudik, ada banyak balita dan anak-anak yang masa depannya masih membentang. Ada banyak lansia yang lebih rentan terpapar virus.

Virus ?? Ya, kita bicara tentang coronavirus lagi yang mengguncang dunia karena menyebabkan pandemi COVID-19. Dengan izin Allah, makhluk mikrometer ini sanggup mengubah hampir semua aspek kehidupan. Dalam pandangan kami, memilih tak mudik di lebaran tahun ini adalah pilihan terbaik yang bisa kami buat. Karena kami sangat menyayangi keluarga, orangtua-orangtua, adik-adik kecil di kampung halaman atau yang tak sengaja berpapasan di jalanan. Karena kami tak ingin menjadi salah satu sebab mata rantai pandemi ini tak bisa terputus.

Akhir-akhir ini semakin marak ditemukan kasus positif COVID-19 dari orang yang tanpa gejala. Maka tak ada manusia yang benar-benar tau, siapa yang berpotensi menularkan dan tertular. Sekali lagi, inilah perwujudan ikhtiar terbaik kami atas ketentuan Allah saat ini. Inilah perwujudan ikhtiar seorang hamba yang berburu ridho Rabbnya, semoga Allah ridho untuk segera menurunkan pertolonganNya ^^
Reaksi:
Puput Maulani Mariam
Seorang Sarjana Sains Terapan dari Teknik Telekomunikasi yang mendedikasikan waktunya sebagai istri Reza dan ibu Khalil, dengan entrepreneur sebagai pekerjaan paruh waktunya :)

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email