FOLLOW ME
Seeput

Bukan Wisata Misteri, Kamu Harus Tahu Pesona Lawang Sewu Ini!

Lawang Sewu dari Lantai 2

Apa yang pertama kamu pikirkan saat mendengar Lawang Sewu? Beberapa tahun lalu, sebelum bisa menjamah kota Semarang, aku akan langsung membayangkan adegan-adegan uji nyali yang mencekam saat mendengar nama Lawang Sewu.

Memang sejak dipakai syuting acara uji nyali oleh stasiun TV swasta beberapa tahun lalu, Lawang Sewu akrab dengan sebutan tempat angker untuk orang awam yang belum pernah mengunjunginya (ya macem aku haha). Berbagai adegan mendebarkan direkam dengan apik di gedung peninggalan kolonial tersebut, dan sukses meneruskan rasa takut pada penonton di rumah.

Apakah kenyataannya Lawang Sewu memang menyeramkan dan menakutkan seperti yang diperlihatkan di televisi? Katanya Lawang Sewu berarti seribu pintu. Apakah bangunan ini sungguh memiliki 1000 pintu?

Yuk, aku ajak kamu jalan-jalan virtual ke Lawang Sewu :D

Sepenggal Kisah tentang Lawang Sewu

Sebelumnya aku hanya melihat dan mendengar tentang Lawang Sewu lewat acara-acara di TV. Yang paling terkenal dan melekat di benak banyak orang tentang Lawang Sewu adalah acara uji nyali yang perlah dilakukan di ruang bawah tanahnya. Hiii..

Ternyata bukan karena sembarang alasan Lawang Sewu dipilih sebagai tempat uji nyali. Bangunan ini memiliki sejarah yang sangat panjang sejak pertama kali proses konstruksi di tahun 1904.

Memakan waktu 3 tahun, Lawang Sewu selesai dibangun pada tahun 1907 dan menjadi kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Susah ya bacanya, hiks >_< Sederhananya, Lawang Sewu ini adalah markas perusahaan kereta api Hindia Belanda.

Menurut rekam sejarah di Situs Resmi Pariwisata Indonesia, pada tahun 1942 Lawang Sewu diambil alih oleh Jepang dan difungsikan sebagai penjara oleh para penjajah Jepang yang mengeksekusi beberapa tahanan. Kemudian pada tahun 1945, Lawang Sewu menjadi saksi pertempuran pejuang kemerdekaan Indonesia melawan tentara Jepang yang mengakibatkan gugurnya banyak pahlawan dan para penjajah.

Saat ini para pahlawan yang gugur dalam pertempuran tersebut sudah dimakamkan secara simbolis di Taman Makam Pahlawan kota Semarang. Tapi bagaimana dengan para penjajah Jepang yang tewas? Bagaimana dengan tahanan-tahanan yang disiksa secara sadis di ruang bawah tanah hingga tewas?

Sejarah kelam inilah yang memunculkan banyak stigma di masyarakat terhadap Lawang Sewu. Mistis, seram, horor, dan predikat menakutkan lainnya tersemat ketika Lawang Sewu dibicarakan.

Setelah renovasi besar-besaran, Lawang Sewu resmi dibuka kembali untuk publik oleh Ani Yudhoyono pada tahun 2011. Saat ini, Lawang Sewu dikelola oleh PT KAI dan dimanfaatkan sebagai museum yang memamerkan koleksi perkeretaapian dari masa ke masa.

Jalan Menuju Seribu Pintu

Aku berkendara menggunakan mobil bersama suami dan seorang balita. Dari Bandung, perjalanan menuju Semarang bukanlah perjalanan yang naik-turun apalagi penuh tikungan tajam.

Masuk dari gerbang tol Buah Batu di Bandung, kami terus berada di jalur bebas hambatan, melewati banyak rest area, sesekali merasakan gelombang dari tekstur jalan yang dicor, menepi ke tempat peristirahatan saat punggung sudah terlalu lama bengkok, dan kembali meneruskan perjalanan di jalan lurus yang tak terlihat ujungnya.

Kami mulai memasuki jalanan berbukit, bersatu dengan sepeda motor di jalan raya, dan kembali melihat traffic light setelah kami keluar di tol Jatingaleh/Gombel. Tempat pertama yang kami tuju adalah Patra Semarang Hotel & Convention, tempat kami menginap selama di Semarang.

Begitu keluar dari mobil, aku bisa merasakan perbedaan suhu yang signifikan antara Bandung dan Semarang, hahaha.. Syukurnya, kami memilih hotel yang tepat untuk kembali memulihkan mood dan energi :)

Entah karena kami bepergian di hari Jumat (weekday) atau memang keadaannya selalu begitu setiap hari, kami tak pernah menemukan ada kepadataan kendaraan di sepanjang perjalanan. Meski begitu, menempuh 7 jam perjalanan bersama seorang balita membuat kami cukup kewalahan. Jadi, kami memutuskan untuk istirahat di hotel terlebih dulu dan menjelajahi Semarang keesokan harinya.

Menginap di Patra Hotel

Di Sabtu pagi, kami sudah kembali bugar dan siap bertolak ke tempat yang kami nanti-nantikan, landmark kota Semarang yang penuh sejarah, yaitu Lawang Sewu. Ini pengalaman pertama kami pergi ke Lawang Sewu.

Petunjuk yang kami punya adalah navigasi dari Google Maps, informasi di mesin pencari Google, dan pernyataan dari orang-orang di pinggir jalan. Menurut Google Maps, Lawang Sewu hanya berjarak 5 km dari hotel tempat kami menginap, dan bisa ditempuh dalam waktu 15 menit dengan kendaraan pribadi.

Lagi-lagi, sepanjang perjalanan tak terlihat ada kepadatan kendaraan seperti yang biasa aku temui di Bandung. Please let me know dong warga Semarang, apa hanya aku yang lucky karena tak mengalami macet atau memang Semarang tak pernah macet?

Pesona Dibalik Kisah Horor

Seperti yang disebutkan di berbagai ulasan wisata, Lawang Sewu ini memang tak jauh dari pusat kota sehingga tak sulit ditemukan. Bangunannya yang berdiri tinggi juga membuatnya semakin mudah terlihat bahkan dari kejauhan.

1. Lokasi

Tugu Muda Semarang

Lawang Sewu berada di kawasan Tugu Muda, tepatnya di Jalan Pemuda, tak jauh dari kawasan Simpang Lima, kota Semarang. Mobil kami mulai mendekat ke pagar-pagar yang mengelilingi bangunan kokoh itu, tapi kami tak bisa melihat rambu untuk memarkirkan kendaraan.

Setelah bertanya pada salah satu petugas (sepertinya petugas parkir) di situ, kami diminta parkir di Jalan Inspeksi, jalan kecil yang sudah kami lewati. Aku cukup menyayangkan karena tak ada tempat parkir yang memadai untuk kendaraan pengunjung. Padahal di akhir pekan itu sudah ramai pengunjung meski hari masih cukup pagi.

2. First Impression

Gerbang masuk menuju Lawang Sewu hanya berjarak sekitar 100 meter dari ujung Jalan Inspeksi. Di luar pagar yang mengelilingi Lawang Sewu, terdapat kursi-kursi untuk menikmati jalanan di kawasan Tugu Muda tersebut.

Kursi di Depan Lawang Sewu

Semakin mendekati Lawang Sewu, aku semakin mendongakkan kepala, memastikan mataku merekam semua sisi Lawang Sewu yang mengagumkan. Semakin mendekat, semakin aku bisa melihat kemegahan dan keindahan arsitektur bangunannya.

Gedung Utama Lawang Sewu
Sumber: Heritage - Kereta Api Indonesia

Hal pertama yang aku lihat adalah kemegahan bangunan gedung utama yang diapit 2 menara besar lengkap dengan kubah di atas masing-masing menara. Menempel dengan menara tersebut, memanjang koridor dengan banyak lawang sebagai sayap kiri dan sayap kanan gedung utama.

3. Harga Tiket Masuk

Lawang Sewu dibuka setiap hari dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam. Di depan gedung utama juga ada tempat pembelian tiket dengan harga yang terjangkau, yaitu Rp 10.000 untuk dewasa dan Rp 5.000 untuk anak.

Setelah membeli tiket, suamiku ditawari untuk memakai jasa tour guide dengan tarif Rp 50.000. Tapi karena kami bepergian dengan seorang balita yang sedang aktif lari-lari, kami pikir tak akan kondusif untuk mendengar penjelasan tour guide sambil berlarian mengejar balita kami. Emak-emak paling paham rasanya kan? Hehehe..

4. Pesona Lawang Sewu

Memasuki gedung utama, terdapat sebuah tangga besar di tengah ruangan. Dalam imajinasiku, tangga itu seperti tangga-tangga di istana yang biasa ada di film-film kerajaan, menjulang kokoh menuju lantai 2.

Tangga Gedung Utama

Setelah menaiki tangga itu, aku semakin takjub melihat kaca besar dengan tinggi lebih dari 2 meter yang memperlihatkan gambar 2 orang perempuan muda.

Kaca Patri Lawang Sewu
Sumber: Tripadvisor

Ada yang bilang perempuan-perempuan itu adalah orang Belanda. Ada juga yang bilang salah satu perempuan itu adalah Dewi Fortuna dan yang lainnya adalah Dewi Sri. Konon, gambar itu terbuat dari kaca dan hanya terlihat dari bagian dalam gedung.

Setelah mengagumi gedung utama, kami menyusuri koridor panjang yang membentang sampai ke gedung perpustakaan di belakang gedung utama. Koridor ini memiliki banyak pintu yang tiap ruangannya memamerkan berbagai koleksi perkeretaapian.

Koleksi Perkeretaapian di Lawang Sewu

Di belakang gedung utama, ada bangunan yang lebih kecil yaitu perpustakaan. Di gedung perpustakaan ini, aku bisa melihat berbagai dokumen tempo doeloe dan buku-buku tentang kereta api.

Di samping perpustakaan, berdirilah gedung tambahan yang baru dibangun sekitar tahun 1916. Tak jauh berbeda dengan desain gedung utama, gedung tambahan ini juga punya koridor yang sangat panjang dengan banyak pintu di sisi kiri dan kanan.

Gedung Tambahan Lawang Sewu

Koridor Gedung Tambahan Lawang Sewu

Setiap pintu ini menuju ke ruangan persegi yang cukup luas di mana masing-masing ruangan ini juga saling terhubung dengan pintu di tengah ruangan tersebut. Bisa dibayangkan ya betapa banyaknya pintu di gedung ini.

Oleh karena itu, masyarakat zaman dulu menyebutnya Lawang Sewu (bahasa Jawa) yang berarti seribu pintu. Namun, sebenarnya jumlah pintu di Lawang Sewu ini ada 928 loh!

Jumlah jendela juga tak kalah banyak dengan jumlah pintu. Menurutku ini sangat membantu untuk sirkulasi udara, karena meski di luar gedung matarahinya sangat terik, keadaan di dalam gedung tetap sejuk.

Di gedung tambahan ini tak ada benda-benda yang dipamerkan seperti di gedung utama. Tapi dari lantai 2 gedung tambahan, aku dapat pemandangan yang berbeda di kawasan Lawang Sewu.

Dari atas jelas terlihat bahwa Lawang Sewu berdiri di hamparan kawasan yang sangat luas. Tak ragulah jika ada informasi yang menyebutkan luas kawasan ini mencapai 18.232 m2.

Belakang Gedung Utama Lawang Sewu

Dari lantai 2 gedung tambahan ini, aku bisa mengagumi arsitekstur bagian belakang gedung utama. Bisa aku lihat juga sebuah pohon besar di tengah halaman sedang dikerumuni banyak orang yang berlindung dari sengatan matahari.

Setelah cukup lama menjajaki lorong panjang dan naik turun tangga, kami mengakhiri tour Lawang Sewu kami dengan mengikuti jejak orang-orang yang duduk berteduh di bawah pohon besar itu :D Angin yang bertiup sangat menghibur bagi kami yang belum bisa beradaptasi dengan suhu kota Semarang.

5. Fasilitas

Menurutku fasilitas di Lawang Sewu sudah cukup lengkap dengan adanya toilet, mushola, kantin dan CFC. Aku juga sangat menyarankan untuk memakai jasa tour guide agar setiap lorong Lawang Sewu yang ditelusuri terasa lebih bermakna dengan mendengar kisah-kisah dibaliknya.

Kalau berkesempatan mengunjungi Lawang Sewu lagi, aku juga ingin memakai jasa tour guide. Selain bisa mendengar kisah-kisah sejarah Lawang Sewu, tour guide juga bisa membantu mengabadikan foto indah di spot-spot yang instagramable, hehe..

Tak jauh dari Lawang Sewu juga banyak tempat wisata lain yang terkenal di Semarang seperti Klenteng Sam Poo Kong dan Kota Tua. Tips receh dari aku yang sering malas bawa uang cash adalah kamu harus mau siapkan uang cash karena tak banyak transaksi di tempat wisata yang bisa cashless :)

Perjalanan ini dilakukan sebelum pandemi, jadi tak ada protokol kesehatan yang harus dipatuhi. Di era baru sekarang ini, kabarnya pengunjung dicek suhu tubuhnya lebih dulu sebelum masuk Lawang Sewu. Tentunya pengunjung juga harus mematuhi protokol kesehatan.

Setelah mengunjungi langsung Lawang Sewu, aku mulai sedih dengan predikat-predikat mistis yang melekat pada namanya. Padahal, Lawang Sewu punya banyak pesona yang bisa dinikmati daripada sekadar 'wisata misteri'.

Finally, hope you enjoy this virtual vacation! Hahaha.. Semoga setelah pandemi ini berakhir, kamu juga jadi berkeinginan mengunjungi Lawang Sewu ^^
Puput Maulani Mariam
Seorang Sarjana Sains Terapan dari Teknik Telekomunikasi yang mendedikasikan waktunya sebagai istri Reza dan ibu Khalil, dengan entrepreneur sebagai pekerjaan paruh waktunya :)

Related Posts

13 comments

  1. Tercerahkan dengan ulasan ini mbaak... ternyata seru juga berkunjung kesini yaaa

    ReplyDelete
  2. Belum tahu penjara jongkoknya ya mbak, hiiyy...bayanginnya dah serem. Lawang sewu lebih megah di malam hari, krn pencahayaan yg bagus.

    ReplyDelete
  3. Aku juga suka spot di Lawang Sewu, Mbak. Juga nonton film dokumenter kereta apinya.

    ReplyDelete
  4. Setelah baca ini, ternyata Lawang Sewu tidak seseram di film hehe.
    Btw aku baru ngeh, Lawang Sewu itu bangunan ya he,
    Harga tiketnya juga terjangkau banget.
    Cuma jarak tempuh dari Sukabumi ke Semarang yg bikin kantong tipis heu

    ReplyDelete
  5. Emang masih ada kesan seramnya si mba, beberapa kali ke sana waktu kuliah kadang ada kejadian yang pingsan entah kenapa hehe

    ReplyDelete
  6. Puput selalu keren buat tulisannya. Review satu tempat saja sdh sebanyak dan komplit begini. Jadi pengen ke sana lagi. Belum maksimal waktu itu

    ReplyDelete
  7. Kurang dikit jadi beneran 1000 ya pintunya 😂

    ReplyDelete
  8. Jadi nostalgia jaman kuliah masih main main ke tempat ini 😊

    ReplyDelete
  9. Uwoo, 5 tahun tinggal di Semarang belum pernah masuk ke lawang sewu tuuh, isin.hehe. Keren mbak, serasa lagi jalan-jalan virtual.

    ReplyDelete
  10. Mampir ahh kalau ada kesempatan ke Semarang

    ReplyDelete
  11. pernah sekali ke lawang sewu, saat anak pertama masih 3 tahunan. sekarang udah kelas tiga. wuiih ternyata udah lama banget nggak ke semarang.

    ReplyDelete
  12. Fotonya bagus banget mba jadi pengen juga ke lawang sewu kapan-kapan

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email