FOLLOW ME
Seeput

Memantapkan Arah Langkah dengan Life Mapping

Life Mapping

Pertama kali aku mengenal life mapping ini di tahun 2018 lalu, saat mengikuti kelas online Bengkel Diri Level 1. Jadi, tulisan kali ini pun akan banyak terinspirasi dari materi yang disampaikan Kepala Sekolah Bengkel Diri, Ummu Balqis.

Bagiku, life mapping seperti modal dasar untuk melangkah. Apa yang harus aku perjuangkan lebih dulu? Apa yang perlu aku perjuangkan selanjutnya? Sampai sejauh mana aku harus berusaha?

Perlu waktu khusus untukku merancang life mapping. Apalagi saat berkaitan dengan cita-cita keluarga, tentunya perlu perenungan-perenungan yang mendalam bersama suami.

Sebelum membuat life mapping, ada hal yang harus diselami dulu yaitu potensi diri. Potensi diri dapat diartikan sebagai kekuatan atau sesuatu yang terpendam (belum muncul) yang dimiliki seseorang sebagai karunia dari Allah.

Mengenali potensi diri merupakan tahapan yang penting sebelum membuat life mapping, supaya life mapping yang disusun nanti tidak mencederai keunikan pribadi kita. Lalu, darimana kita harus mulai mengenali potensi diri? Dan bagaimana potensi diri dikaitkan dalam pembuatan life mapping? Yuk, bahas satu per satu! :)

Mengenali Potensi Diri

Potensi Diri

Apa jawabanmu saat seseorang bertanya orang seperti apa dirimu? Apa jawabanmu saat dalam sebuah wawancara kerja, kamu diminta menyebutkan kekurangan dan kelebihanmu?

Kebanyakan orang bisa dengan lancar menyebutkan kekurangan-kekurangan dirinya, tapi perlu waktu lebih lama untuk menjelaskan kelebihan-kelebihannya. Bahkan ada orang yang nekat berkata tak punya kelebihan atau belum menemukan kelebihannya saat diwawancarai kerja.

Kalau kata Ummu Balqis, masing-masing dari kita adalah juara. Bahkan sejak awal mula, kita sudah menjadi pemenang yang mengalahkan jutaan calon kehidupan.

Kalau aku, saat ditanya orang seperti apa diriku, biasanya aku langsung menjawab bahwa aku orang yang bawel, cengeng, mudah panik, dan lain-lain. Setelah belajar di kelas Bengkel Diri ini aku menyadari, betapa banyak konotasi negatif yang aku sematkan di diriku sendiri. Bawel, cengeng, mudah panik, over thinking, baperan, dan masih banyak lagi.

Pantas saja diri ini masih sering merasa insecure, merasa tiba-tiba runtuh kepercayaan dirinya, karena ternyata kalau ditanya orang seperti apa diriku, secara refleks aku memang melabeli diriku dengan konotasi-konotasi yang negatif.

Jadi, jangan lagi menyebut dirimu bawel atau cerewet. Katakan bahwa kamu hanya terlalu suka merangkai kata. Jangan lagi menyebut dirimu cengeng atau baperan. Katakan bahwa kamu hanya lebih ekspresif dan responsif dari orang-orang kebanyakan :D

Coba tuliskan 10 potensi yang ada dalam dirimu. Telusuri potensi itu dengan bertanya pada diri sendiri, kegiatan apa yang kamu bisa lakukan? Kegiatan apa yang kamu suka dan membuatmu berbinar saat melakukannya?

Setelah berhasil menuliskan 10 potensi diri, kita siap melangkah ke tahap berikutnya untuk membuat life mapping!

Mulai Membuat Life Mapping

Time Management

Bagiku, membuat life mapping erat kaitannya dengan time management. Melihat goal yang aku tulis membuatku merasa tak bisa menyia-nyiakan waktu. Rasanya setiap menitku harus diisi dengan hal-hal yang mendukung  untuk pencapaian goal tersebut.

Membuat life mapping juga membuatku merasa lebih bernilai. I mean, dengan banyaknya stigma negatif terhadap ibu rumah tangga, aku merasa lebih berdaya dengan menuliskan hal-hal yang ingin aku capai untuk diriku dan keluargaku.

Bahwa aku pun bisa mengaktualisasi diri, bisa punya cita-cita sendiri, bisa menentukan tujuan hidupku tanpa tekanan dari orang lain. Karena seperti yang Buya Hamka bilang, kalau hidup hanya sekadar hidup, kera di hutan pun bisa hidup.

Anyway, life mapping ini bisa dibuat secara digital (dengan aplikasi Canva, misalnya) ataupun dibuat secara konvensional dengan tulisan tangan. Lakukan apapun yang membuatmu nyaman dan semangat saat merancang langkah-langkah kehidupanmu :)

Contoh Life Map

Gambar di atas adalah contoh life mapping yang aku buat tahun 2018 lalu. Secara sederhana, untuk membuat life mapping kamu perlu menentukan tujuan hidupmu. Kamu bisa membuat life mapping dengan goal 5 tahun ke depan, 10 tahun ke depan, 15 tahun ke depan, atau bahkan 25 tahun dari sekarang.

Kategorikan cita-citamu, apakah itu untuk pengembangan spiritual, keluarga, finansial, karir, kesehatan, dan lain-lain. Lalu, visualisasikan cita-citamu dalam sebuah peta. Kamu juga bisa menyorot tujuan-tujuan hidup yang menjadi prioritas, misalnya dengan memberikan warna yang berbeda, atau membuat ukuran tulisannya jauh lebih besar dibanding bagian yang lain.

Jangan lupa juga untuk memajang life mapping itu di tempat yang sering kamu lihat, atau di tempat yang pertama kali kamu lihat saat bangun tidur. Selain menjadi modal dasar untuk melangkah, membuat life mapping juga bisa membantu menyeimbangkan kecenderunganku.

Aku berusaha seimbang menentukan goal untuk diriku, keluargaku, karirku, finansialku, dan spiritualku. Jangan sampai kecenderunganmu pada perkara dunia lebih besar daripada kecenderunganmu untuk urusan spiritual yang akan menjadi bekal akhirat.

Life mapping juga jadi  semacam guideline, agar aku tak tersesat dan keep on the right track. Selain itu, life mapping juga bisa menjadi analisa kegagalan. Saat ada tujuan yang tidak tercapai, aku bisa mengulas lagi tujuanku. Barangkali, tujuan yang aku tulis tidak realistis untuk usaha yang aku lakukan.

Secara tak langsung, aku jadi bisa mengoreksi diri dengan kegagalan-kegagalan itu. Dan tentu saja, membuat life mapping juga berarti aku sedang mendayagunakan potensiku :)

Ada beberapa tips dari Ummu Balqis yang biasa aku lakukan setelah rampung membuat life mapping, yaitu dengan memperbaiki ibadah, memperbaiki relasi dengan orang lain, bersahabat dengan orang-orang yang salih & sukses, giat mencari ilmu dan sedekah.

Jadi, apakah kamu tertarik membuat life mapping? Siapa saja pihak-pihak yang akan kamu libatkan dalam membuat life mapping? Siapapun orangnya, semangat memetakan hidup dengan bahagia yaa ^^


Reaksi:
Puput Maulani Mariam
Seorang Sarjana Sains Terapan dari Teknik Telekomunikasi yang mendedikasikan waktunya sebagai istri Reza dan ibu Khalil, dengan entrepreneur sebagai pekerjaan paruh waktunya :)

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email