FOLLOW ME
Seeput

Marriage Life, Menikah Untuk Bahagia

Menikah Untuk Bahagia

Bukan rahasia lagi bahwa yang diimpikan banyak pasangan adalah menikah untuk bahagia. Sebagai seseorang yang sudah melewati 5 tahun bahtera rumah tangga, masih banyak ilmu kehidupan yang perlu aku gali.

Meski begitu, aku tetap ingin berbagi sedikit pelajaran dari setiap kebaikan dan keburukan, twist and turn, up and down yang aku hadapi dalam kehidupan pernikahanku.

Aku banyak melihat pasangan yang tak sabar mengambil keputusan untuk nikah muda, karena tak ingin terlalu lama menabung dosa katanya. Tapi tak sedikit juga kaum single yang enggan menikah meski sudah mapan dan cukup umur, karena tak mau mau menghadapi konflik-konflik pernikahan di masa depan nanti katanya.

Beberapa waktu lalu, aku berkesempatan menimba ilmu dari Ummu Balqis yang sudah malang melintang di media sosial sebagai Parenting dan Marriage Enthusiast. Selain Ummu Balqis, ada juga Ustadzah Khutbah dan Ustadzah Meti yang turut membersamai memberikan bekal tentang kehidupan pernikahan.

To be honest, aku dan suamiku tak memulai pernikahan kami dengan cara yang islami. Karena aku sudah mengalaminya sendiri, aku punya keyakinan bahwa pencarian jodoh, pernikahan dan manajemen konflik yang didasarkan pada tiang-tiang agama akan lebih banyak memberikan keberkahan daripada yang hanya bersandar pada nafsu cinta dan logika.

Oleh karena itu, aku ingin membagi hasil belajarku pada lebih banyak orang agar kebermanfaatan pengetahuan ini tak berhenti di diriku. Bagaimana sebenarnya kriteria jodoh impian? Seperti apa sebenarnya realita kehidupan pernikahan? Jika konflik tak bisa dihindari, seperti apa konflik itu harus dihadapi?

Menjadi Jodoh Impian agar Menikah untuk Bahagia

Jodoh Impian

Yes, saat memilih jodoh, sebenarnya kita sedang memilih masalah. Masalah yang akan dihadapi di sepanjang kehidupan pernikahan. Jadi jangan bercanda saat memilih jodoh, karena pernikahan bukan main rumah-rumahan.

Tak ada yang salah saat seseorang mengatakan bahwa jodoh ada di tangan Allah. Pernyataan itu memang benar adanya. Namun, ada juga wilayah-wilayah yang bisa manusia usahakan dan upayakan untuk hadirnya jodoh impian.

Kalau di film, menikah adalah salah satu happy ending style. Tujuan dari sebuah relationship yang happily ever after. Nyatanya, menikah itu starting point. Awal dari perjalanan panjang, awal dari ibadah terpanjang selama sisa hidup. Dan sebaik-baiknya perjalanan adalah perjalanan dengan bekal terbaik.

That's why perihal jodoh tak bisa tak bisa diputuskan hanya dengan dasar cinta. Kamu yakin akan bisa tahan kalau selama 40 tahun atau lebih, kamu hidup bersama orang yang shalat wajib pun susah dan mau baca Al-Quran saat sedang mood saja? Hehehe..

Berikut ini hal-hal yang bisa diupayakan untuk menjadi jodoh impian dan dalam menjemput jodoh impian:

1. Memperbaiki Kualitas Diri

Karena jodoh itu cerminan diri, perbaikilah kualitas diri sendiri sebelum mencari jodoh yang high quality juga. Kurang match kan kalau ingin dapat jodoh yang selalu shalat tepat waktu, rajin qiyamul lail, apalagi seorang hafidz… tapi diri ini shalatnya masih dinanti-nanti, qiyamul lail hanya saat sedang ada masalah, dan Al-Quran dibiarkan berdebu di atas meja :(

2. Tidak Mudah Terbawa Perasaan

Jangan langsung senang hanya karena ditanya kalimat ajaib 'Lagi apa?'. Bisa saja dia begitu pada semua perempuan :D. Lebih baik perluas silaturrahim, karena kita tak tahu dari arah mana jodohnya Allah datangkan.

3. Diskusikan Hal-Hal Terkait Prinsip

Saat proses taaruf, diskusikan hal-hal yang terkait prinsip seperti cara mendidik anak & istri, otoritas keuangan rumah tangga, cara dia biasanya menggunakan waktu luang, komitmen aliran dana ke orangtua 2 belah pihak, dan lain-lain.

4. Jangan Membawa Setumpuk PR ke Dalam Pernikahan

Kalau sudah tau dia malas shalat, tak pernah membaca Al-Quran, acuh pada keluarga, jangan punya pikiran 'Aku ingin mengubah dia jadi lebih baik'. JANGAN. Seriously, jangan ngeyel juga. Karena tanpa PR-PR seperti itu pun, pernikahan sudah punya ujiannya sendiri.

5. Jalin Hubungan Hanya Dengan Orang Yang Sudah Siap Menikah

Pastikan bertaaruf dengan orang yang memang sudah siap menikah, yang sudah tuntas PR pribadinya. Jangan sampai di tengah proses nanti tiba-tiba mundur dengan alasan 'Aku belum siap nikah sekarang. Harus tunggu kakakku nikah dulu' atau 'Aku harus lulus kuliah dulu' atau 'Orangtuaku belum mengizinkan nikah' dan alasan-alasan tak logis lainnya.

Pernikahan adalah salah satu bentuk kesempurnaan syariat Islam dalam mengatur naluri seks manusia. Islam telah menganjurkan bahkan memerintahkan dilaksanakannya pernikahan. Maka Islam melarang seseorang untuk terus membujang.

Bagi seorang perempuan, tentunya juga harus menyiapkan diri untuk menjadi madrasah ula (pendidik pertama dan utama), sebagai ibu, dan sebagai pengatur rumah tangga. Menelantarkan tugas-tugas rumah tangga adalah sebuah kemaksiatan di mata Allah karena melalaikan kewajiban.

Manajemen Konflik Rumah Tangga

Konflik Pernikahan

Tak pernah ada rumah tangga yang tak berkonflik. Kenapa? Karena seperti yang sudah diluruskan di awal bahwa pernikahan adalah starting point dari ibadah terpanjang. Dan selayaknya ibadah, syaithon tak pernah berhenti mengganggu orang yang beribadah.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai upaya pencegahan terjadinya konflik, salah satunya adalah dengan komunikasi produktif. Komunikasi adalah kunci awal untuk membangun rumah tangga yang harmonis.

Keliru menangkap mimik wajah saja bisa menjadi penyebab masalah loh! Maka dari itu, komunikasi yang produktif adalah hal krusial yang harus dikuasai.

Salah satu kebiasaan yang sering dijumpai di kehidupan sehari-hari adalah perbedaan gaya komunikasi suami dan istri. Kalau Ummu Balqis bilang, perempuan seringkali bicara dengan bahasa 'karet gelang' saat ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Apa yang diucapkannya bukanlah maksud yang sebenarnya.

Sedangkan kaum lelaki tidak mengerti bahasa karet gelang. Sehingga saat ia sedang tertekan, ia akan menganggap ucapan perempuan tersebut adalah maksud yang sebenarnya. Inilah pemicu konflik yang sering terjadi.

Oleh karena itu, berhentilah memakai gaya bahasa karet gelang, hehe. Lebih baik lakukan komunikasi yang efektif untuk suami dan istri dengan panduan sebagai berikut:
  1. Tanamkan bahwa pasangan adalah bagian dari diri kita
  2. Mengedepankan hukum syariat
  3. Berupaya memperlakukan pasangan dengan sebaik-baiknya
  4. Tidak kaku dalam berkomunikasi
  5. Mendudukkan pasangan sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan
That's all celoteh tentang marriage life hari ini. Pernikahan bukan hal yang menakutkan. Tapi pernikahan juga perlu perbekalan yang matang, agar bisa menikah untuk bahagia ^^.
Reaksi:
Puput Maulani Mariam
Seorang Sarjana Sains Terapan dari Teknik Telekomunikasi yang mendedikasikan waktunya sebagai istri Reza dan ibu Khalil, dengan entrepreneur sebagai pekerjaan paruh waktunya :)

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email