FOLLOW ME
Seeput

Surat untuk Diri Sendiri: Dear Myself, You're Loved!

Surat Untuk Diri Sendiri

Pernahkah kamu menulis surat untuk diri sendiri? Atau kamu sempat terpikir untuk melakukannya, tapi belum benar-benar sempat mewujudkannya?

Bagi sebagian orang, mungkin gagasan ini terlampau aneh dan abstrak. Apa yang bisa dituliskan dalam sebuah surat untuk diri sendiri? Apa yang harus diungkapkan dalam surat itu?

Kalau kamu termasuk dalam kelompok orang yang menganggap menulis surat untuk diri sendiri adalah gagasan yang aneh, izinkan aku mengajukan pertanyaan lain untukmu.

Seberapa sering kamu meminta maaf pada dirimu? Seberapa sering kamu berterima kasih pada dirimu? Semoga kamu tak kebingungan menjawabnya yaa :)

Sebelum mengenal seni berbicara pada diri sendiri, aku melihat diriku dengan cara orang memandangku. Ketika orang bilang aku pemarah, maka aku akan menilai diriku pemarah. Ketika orang bilang aku terlihat jelek, aku pun akan selalu melihat diriku yang jelek.

Saat diminta menuliskan kelemahan diri sendiri, aku bisa menuliskan setidaknya 10 hal dalam waktu yang singkat. Tapi saat diminta menuliskan kelebihan, aku perlu waktu berjam-jam untuk mendapatkan 10 poin kelebihan.

Menyedihkan bukan? Ya, dulu aku seperti itu. Alhamdulillah, sebelum aku tenggelam di lingkaran emosi negatif yang lebih dalam, skenario Allah mempertemukan aku dengan seorang psikolog yang menjadi salah satu fasilitator di kelas pengembangan diri yang aku ikuti.

Di kelas ini aku dibekali pengetahuan tentang seni berbicara dan menulis surat untuk diri sendiri yang memberikan dampak tak terduga. Sampai sini kamu mungkin mulai berpikir, Seajaib itu ya menulis surat untuk diri sendiri? Terus gimana caranya? Apa yang harus ditulis?

Come on, keep scrolling down!

Perlunya Menulis Surat untuk Diri Sendiri

Self Talk

Seperti yang aku sebutkan sebelumnya, menulis surat untuk diri sendiri ternyata memiliki dampak yang tak terduga. Banyak orang bilang, writing is healing. Bagian mana dari diri kita yang sebenarnya disembuhkan lewat menulis?

Aku pribadi sudah beberapa kali mencoba menulis surat untuk diri sendiri, baik yang berupa self-talk bebas (hanya menuangkan isi hati tanpa format tertentu) maupun yang menggunakan mantra-mantra khusus :D

Kedua metode yang pernah aku coba itu sama-sama memberikan sensasi yang luar biasa. Meski harus membuka kenangan lama yang sudah dikubur dalam-dalam karena rasa sakitnya, meski berlinang air mata karena insecure dengan luka dari masa lalu, aku menikmati semua proses tersebut hingga akhirnya sampai ke fase yang melegakan :')

Jadi, perlukah menulis surat untuk diri sendiri? From my experience, it's necessary. When the whole world against you, when you're in your darkest hour, ketika kamu merasa ingin tidur seharian agar bisa melupakan lukamu, cobalah luangkan waktu untuk menyelami lagi diri sendiri.

Beberapa manfaat yang aku rasakan setelah menulis surat untuk diri sendiri di antaranya:

1. Membantu diri sendiri melihat sesuatu dari sisi positif

Saat tak ada orang lain yang mendeskripsikan diriku dengan positif, aku harus jadi satu-satunya orang yang memandang positif. Aku tak lagi menuliskan diriku yang cerewet. Karena sebenarnya, aku hanya lebih suka mengekspresikan segala sesuatunya dengan kata-kata.

Begitu pula saat orang lain memandangku sebagai individu yang overreacting, overthinking alias lebay, aku akan mendeskripsikannya dengan cara yang lebih baik. Karena sebenarnya, aku hanya diberkahi dengan tingkat kepekaan yang lebih tinggi dari orang kebanyakan sehingga aku cenderung langsung memberikan reaksi terhadap sesuatu, hehehe..

Cobain yuk! Kalau kamu, bagaimana caramu mendeskripsikan dirimu dengan cara yang positif?

2. Membangun mental yang kuat

Setelah tuntas dengan penerimaan diri yang positif, cara pandang orang lain terhadap diriku tak lagi berdampak pada penilaianku terhadap diri sendiri. Jadi, aku tak mudah cemas atau stress saat ada sesuatu yang tak sesuai dengan maksudku.

Dengan begitu, aku bisa berpikir lebih jernih dalam menghadapi setiap tantangan hidup dan tak mudah terpuruk menghadapi hari yang buruk.

3. Meningkatkan kualitas hidup

Ini fase yang paling melegakan dan membahagiakan. Mental yang sehat, mood yang baik, membuatku lebih semangat melakukan berbagai aktivitas fisik, mengambil berbagai peran di komunitas publik, dan berkontribusi dengan cara-cara yang aku nikmati.

Dengan cara pandang baru yang lebih positif dan non-toxic, aku memandang kemunduran dan kegagalan sebagai bagian dari dinamika hidup, sebagai kesempatan untuk belajar lebih banyak. Aku lebih berani dan percaya diri untuk mengambil setiap kesempatan yang membuatku bisa mengaktualisasi diri.

Masyaa Allah, jadi.. sudah siapkah menulis surat untuk diri sendiri? :D

Mengenal Ho'oponopono

Hooponopono

Ho'oponopono adalah sebuah metode terapi penyembuhan diri yang datang dari Hawaii, yang punya mantra-mantra khusus dalam proses menulisnya. Mantra-mantra itu adalah I'm sorry, Please forgive me, Thank you, dan I love you.

1. I'm sorry

Pada bagian ini, aku harus mengakui bahwa aku punya andil dalam segala konflik yang terjadi di hidupku, termasuk konflik dalam diri yang terjadi di pikiranku. 

Aku turut andil jika aku merasa sakit, sesak dan tak nyaman. Karena apa yang aku terima adalah timbal balik dari reaksiku terhadap sesuatu. Maka aku perlu bertanggungjawab dan meminta maaf pada diriku.

2. Please forgive me

Bagian ini adalah penekanan dari penyesalan dan rasa bersalahku karena hal-hal yang ada di bagian I'm sorry tadi.

3. Thank you

Setelah menyelesaikan 2 bagian di atas, aku menyadari betapa diriku pernah sangat berjuang juga terluka. Maka di bagian ini aku berterima kasih pada diriku karena mau tetap bangun di pagi hari, mau tetap melangkahkan kaki meski tak mudah sama sekali.

4. I love you

Inilah bagian yang paling indah. Aku seringkali mengungkapkan cinta pada suamiku, pada balitaku, tapi tak pernah pada diriku sendiri. Aku seringkali mengapresiasi prestasi-prestasi balitaku sesederhana apapun itu, tapi aku lupa mengapresiasi diriku sendiri. Jadi di sinilah aku mengungkapkan rasa cinta pada diriku :')

Dear myself,
I'm sorry, karena membiarkan kamu mematikan rasa sakitmu terlalu lama.
I'm sorry, karena aku seringkali memilih jalan pintas untuk menghindari konflik tanpa mau repot-repot membela diri.
I'm sorry, karena aku melewatkan kesempatan untuk menjelaskan keadaanmu pada orang lain hingga mereka selalu salah memahamimu.
I'm sorry, karena membuatmu merasa sesakit ini, seburuk ini, sehancur ini.
I'm sorry, karena maksa kamu untuk selalu sabar dan bertahan.
I'm sorry, karena pernah merasa kamu tak pantas diapresiasi.
I'm sorry, karena aku pernah mengikuti pikiran toxic dan ikut membenarkan bahwa kamu tak cukup baik dan tak layak.

Please forgive me, karena aku membiarkanmu menggantungkan kebahagian pada orang lain.
Please forgive me, karena membiarkan kamu tenggelam terlalu dalam.
Please forgive me, karena membiarkanmu mendengar kata-kata buruk yang tak seharusnya didengar.
Please forgive me, karena terlalu lama mengabaikan perasaanmu yang sudah lama kau pendam.
Please forgive me, karena selalu denial dengan berkata kamu baik-baik saja.
Please forgive me, karena ketidakmampuanku melindungi diri sendiri.
Please forgive me, karena aku seringkali mengesampingkan kebutuhanmu.
Please forgive me, karena aku seringkali memberi beban terlalu berat di pundakmu.

Thank you, kamu masih bersedia bangun dari tempat tidur.
Thank you, kamu masih bersedia melanjutkan hidup.
Thank you, kamu masih bertahan dan tak pergi.
Thank you, kamu tak lari meski berkali-kali bilang rasanya ingin lari.
Thank you, kamu sudah melapangkan hatimu, meluaskan sabarmu dan menahan lelahmu.
Thank you, kamu selalu berusaha terlihat baik-baik saja di depan orang lain.
Thank you, kamu berusaha untuk sembuh dan tetap hidup.

I love you, dirimu yang menahan banyak perasaan demi menjaga perasaan orang lain.
I love you, dirimu yang masih menghargai orang lain meski sudah disakiti.
I love you, dirimu yang masih semangat untuk hidup dan bahagia.
I love you, dirimu yang tanggung sejak hari pertama menjadi istri dan ibu sampai hari ini.
I love you, dirimu yang terus memacu diri untuk bertahan.
Sincerely, I love you..

Agar bisa mulai menulis surat untuk diri sendiri, aku sangat menyarankan kamu memprioritaskan kenyamananmu. Di waktu yang sepi, di saat kamu hanya dengan dirimu sendiri. Duduklah yang nyaman, take a deep breath supaya lebih relaks, bismillah dan mulai menulis.

Nikmati setiap sensasinya, lepaskan setiap sedih dan lukanya, sampai rasakan lega dan bahagianya. Selamat mempraktikkan menulis surat untuk diri sendiri di rumah! ^^
Puput Maulani Mariam
Seorang Sarjana Sains Terapan dari Teknik Telekomunikasi yang mendedikasikan waktunya sebagai istri Reza dan ibu Khalil, dengan entrepreneur sebagai pekerjaan paruh waktunya :)

Related Posts

11 comments

  1. one of the way to apreciate our self is to respect it, even just with a letter. good job mbak puput

    ReplyDelete
  2. Aku cuma ngomong sama diri sendiri aja buat nyemangatin hari. Nulis surat buat diri sendiri kayaknya patut dicoba, nih. Semangat buat kita Mbak Put.

    ReplyDelete
  3. Mbak put mau tanya nih, kalau untuk anak-anak usia 9 tahun cara mengajarkan self talk atau self lpve gimana ya, adakah tipsnya?

    ReplyDelete
  4. Menyentuh banget ka, aku baca ini pelan pelan banget, meresapi gtu huhu. Seolah2 aku ngomong ke diri sendiri
    Bagus ka tulisannya baguus pisan

    ReplyDelete
  5. Aku mewek baca ini mba, kalau kata orang aku si cengeng tapi ya sudahlah. Orang gatau kalau aku lebih perasa aja orangnya dan selalu mencoba diposisi orang lain. Jadi gampang ikut nangis kalau orang lain lagi nggak baik-baik saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mba kia, aku juga orangnya perasa banget sama keadaan orang lain. Makanya ada masa-masanya terasa sulit menjadi orang yang mudah terpapar kesedihan orang lain.

      Delete
  6. Masyaallah, menginspirasi sekali. I love it!
    Harus dicoba nih

    ReplyDelete
  7. Wahh menarikk ini. Siapp di praktekkan juga.
    Biar sekali2 diri ini dapat surat spesial :D

    ReplyDelete
  8. Masyaalloh, syukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, aku mau nulis ini juga ya nanti setelah menelaah dan memahami konsep menulis surat untuk diri sendiri , lope lope lope

    ReplyDelete
  9. Self talk, saya menyebutnya demikian. Selalu lebih work it karena termasuk orang ngeyelan yang susah denger nasehat orang, wkwk. Mo orang lain nasehatin dan nguatin kek gimana, kalau dari kita masih blocking, rasa-rasanya susah ya buat bergerak untuk mengapresiasi diri. kuy, semangat mencintai diri sendiri.

    ReplyDelete
  10. Yes, setiap orang emang harusnya bisa mencintai dirinya sendiri dan bagi sebagian yg lain hal ini adalah suatu yg baru dan asing.. semoga banyak yg mulai bisa mencintai dirinya sendiri ya :)

    ReplyDelete

Post a Comment